21 Januari 2020

Sagra - Oka Rusmini

Apakah hidup akan menyisakan sepotong kecil,
Seukuran kuku kelingking, sedikit saja,
Keinginanku yang bisa kutanam dan kusimpan sendiri?
Hyang Widhi, apakah sebagai perempuan aku terlalu loba, tamak,
Sehingga Kau pun tak mengizinkanku
Memiliki impian?
Apakah Kau laki-laki? Sehingga tak pernah
Kaupahami keinginan dan bahasa perempuan
Sepertiku?

ESENSI NOBELIA
                Menceritakan tentang suami istri yang sama-sama penyair. Mereka mempunyai anak, Nobelia Prameswari. Lima tahun, mereka melewati masa-masa sulit. Walaupun begitu, suaminya, Rifaset tetap tidak mau dibantu keluarganya. Baginya apapun yang mendera mereka baik bahagia maupun senang akan ditanggung berdua.
                Kedua suami istri itu tidak mempunyai penghasilan tetap. Uang baru mereka terima, bila hasil karya mereka bisa diterbitkan. Tetapi semenjak ada Nobelia Prameswari, putri pertama mereka, maka mereka mulai berfikir tetang keinginan dan masa depan.
                Pada akhirnya Rifaset mendapatkan pekerjaan sebagi penyunting buku filsafat dan seni di sebuah penerbitan. Dengan pekerjaan tersebut sedikit banyak bisa membantu asap dapur bisa mengepul.
                Dikisahkan juga Sobrah, tetangga yang sangat  sayang dan perhatian pada Nobelia. Akhir-akhir ini terjadi keanehan pada Nobelia. Bila diberi makan, Nobelia hanya melihat dan memperhatikan saja, tanpa menyentuhnya.  Dan mulutnya keluar kata ‘esensi’.  Hal tersebut terjadi juga, ketika Nobelia diajak orang tuanya ke restoran. Ketika makanan disajikan, Nobelia hanya diam. Matanya melotot, berkonsentrasi, melihat makanan tersebut. Tanpa ekspresi.  Dari mulutnya keluar kata ‘esensi’.
                “Menjadi penyair juga harus bisa berdiri antara realita dan imajinasi”

HARGA SEORANG PEREMPUAN
                Cerpen ini menceritakan pola tingkah ibu-ibu pejabat, yang mendapat warisan nama dari suaminya yang benar-benar seorang pejabat. Segala tingkah laku ibu-ibu pejabat di Indonesia, penuh kebohongan. Dalam kacamata mereka, bahwa sosok ibu pejabat itu harus sempurna. Kesempurnaan mereka tidak boleh ada yang menyamai atau menandingi. Harus eksklusif. Lain dari pada yang lain. Menyanjung dengan kata-kata manis dan menjunjung adalah sebuah keharusan bagi ibu-ibu pejabat yang lebih rendah. Kalau dalam khasanah bapak pejabat ada istilah ABS (Asal Bapak Senang), maka dalam lingkungan ibu-ibu pejabat ada istilah AIS (Asal Ibu Senang). Sebuah kebohongan jamaah atau bisa dikatakan kemunafikan.
                Ada satu kebiasaan yang kadang dilakukan oleh ibu pejabat. Sudah seharusnya ibu pejabat itu orang nomor satu yang harus memberikan contoh baik. Misalnya kalau ada slogan harus menjunjung hasil karya bangsa sendiri, maka seharusnya ibu pejabat yang menjadi contoh. Hanya kadang ibu pejabat itu memakai pakaian tradisional Indonesia, benar, kain dari Indonesia, tapi desaigner dari luar negeri. Benar memakai parfum, harum-haruman dari khasanah pepohonan Indonesia, kayu wangi, rerumputan, dll, tapi belinya di Paris. Sama juga bohong! Kebohongan, kepalsuan, selalu mengular di lingkaran kehidupan sosial ibu-ibu pejabat, dengan satu tujuan bisa mempertahankan jabatan yang dimiliki suaminya.
                Pada akhir cerita, ibu pejabat mendapat tamparan manis, tidak terlalu keras dari pembantunya. Batur. Bahwa pembantunya tidak ingin menjadi pejabat seperti ibu pejabat. Dia beranggapan dan melihat kenyataan bahwa hidup ibu pejabat penuh kepalsuan. Dia lebih senang menjadi diri sendiri. Walaupun hanya tamatan SD dan harus hidup di desa, tetapi dirinya tidak pernah hidup dalam kebohongan. Dia menikmati hidup apa adanya.
                Saya bahagia menjadi diri saya sendiri.

SEPOTONG KAKI
                Menceritakan tentang seorang penari yang bernama Ida Putu Centaga Nareswari, yang dilahirkan oleh Ni Luh Rubag, perempuan biasa, perempuan sudra. Centaga adalah penari yang hanya mempunyai satu kaki, tetapi dia sangat dikagumi banyak laki-laki.
                Centaga lebih dekat dengan ibunya. Ayahnya tidak pernah memperhatikannya. Ayahnya sedang sakit. Kadang kalau sedang kumat, ayahnya sering membuat onar. Orang banyak yang takut. Suka berteriak-teriak dan melempar benda apa pun yang ada di dekatnya. Kata dukun, ayahnya kemasukan roh pemilih griya yang mereka tempati saat ini.
                Centaga pernah diragukan kemampuan menarinya, hanya karena dia mempunyai satu kaki. Tetapi karena kegigihan Luh Karni dalam membimbing, akhirnya Centaga menjadi seorang penari. Walaupun begitu, dia tetap tidak diperbolehkan menari Rejang, saat upacara besar. Kata banyak orang kalau dia menari, akan banyak membawa sial, kesengsaraan di desa itu.
                Aku, Centaga, melihat dan berfikir dengan hati. Dengan sigap, dipotonglah kaki kirinya. Dengan demikian, dia berharap tidak ada seorang laki-laki pun yang menyukainya. Baginya, banyak orang laki menyukainya karena kemolekan kakinya, bukan dirinya. Dia menginginkan laki-laki menyukai dirinya karena apa adanya.

PESTA TUBUH
                Cerpen “Pesta Tubuh”, menceritakan penderitaan wanita-wanita kecil pada masa penjajahan Jepang di Bali. Tubuh mereka dijadikan santapan para serdadu Jepang yang sudah haus nafsu. Mereka sudah tidak lagi bisa disebut sebagai manusia. Apa yang ada dihadapannya, dimakan dengan lahap tanpa menghiraukan bahwa wanita itu masih berusia 10 atau 15 tahun. Setiap hari penderitaan itu berlangsung, bahkan setiap wanita kecil itu harus melayani 5 sampai 10 serdadu Jepang setiap hari, tanpa mendapat kesempatan waktu istirahat. Istirahat hanya berupa helaan sejenak hanya untuk sekadar bernafas, dan mengeliat, menggerakkan tubuh mereka yang kecil. Bagi yang tidak bisa mempertahankan diri, apalagi sudah terkena penyakit, akhirnya dibuang atau dibiarkan penyakit menggerogoti tubuh mereka yang pada akhirnya, ajal menjemputnya.

API SITA
                Sebuah cerpen yang mengisahkan seorang perempuan bernama Ni Luh Putu Sita. Ibunya adalah perempuan biasa, perempuan sudra yang bernama Luh Sagrep. Tetapi yang membuat pertanyaan adalah Luh Sagrep di desa Gombreng sangat disegani dan dihormati oleh siapa pun, bahkan oleh kaum Brahmana. Melihat hal yang demikian Sita sempat bertanya kepada Sawer. Tetapi anehnya Sawer yang seharusnya tahu tentang ibunya, tidak berani untuk bercerita. Konon Luh Sagrep adalah wanita pejuang yang sangat berjasa bagi perjuangan di Bali. Dia mengorbankan dirinya, badanya dinikmati oleh kaum penjajah, dengan imbalan memperoleh berbagai informasi tentang keberadaan gudang senjata atau rencana untuk menyerang. Semua informasi itu dia berikan kepada para pejuang. Bahkan suaminya sendiri dia bunuh, karena tidak setuju dengan perbuatan Luh Sagrep. Pada akhirnya Luh Sagrep tertangkap Belanda, setelah berhasil membunuh komandan Belanda. Hanya pengorbanan Luh Sagrep harus dibayar mahal, desa Gombreng diberhangus, dan banyak rakyat desa itu yang dibunuh. 
                Sepeninggalan ibunya, Sita sendiri mengikuti jejak ibunya. Dia menjadi seorang pejuang di belakang layar, yaitu tetap memberikan tubuhnya untuk pasukan Jepang. Tetapi karena merasa dikhianati oleh Sawer, maka Sawer dia bunuh, selanjutnya dia bunuh diri.

SAGRA
                ....


CATATAN KECIL
                Oka Rusmini dalam Sagra, mempunyai alur cerita yang agak rumit, sehingga bagi pembaca pemula yang ingin menikmati alur apa adanya, alur konvensional akan sedikit mengalami kesulitan. Lebih dari itu Sagra menyuguhkan sisi wanita di masyarakat Bali yang mungkin tidak didapatkan di daerah lain di Indonesia. Keunikan wanita Bali, sisi menarik wanita Bali dan sensualitas wanita Bali tergambar dari budaya dan kebiasaan masyarakat Bali.
                Mencoba memaknai alur cerita harus secara keseluruhan membaca sampai tuntas. Sebab kalau hanya membaca bagian per bagian tidak akan menemukan esensi dari kata-kata yang terangkai menjadi kalimat.
Orang-orang tidak bisa lagi membuatkan aku tempat. Aku bersaing dengan bayang-bayangku sendiri. Aku bergulat dengan tubuhku sendiri. Aku berpikir tentang sesuatu yang kosong. Nihil semua, Ibu. Aku ditempatkan di lorong-lorong kesucian. Kata mereka, aku adalah penyubur dan penjaga akar kesunyian. Lihat, Ibu. Apa yang berada dalam genggaman tanganku? Kebesaran dan rahasia negeri ini (Hal.43).
                Sagra juga menyuguhkan panorama masyarakat Bali yang masih kental dengan adat istiadatnya serta tradisi keagamaan, walaupun modernitas dan suasana global terus menerjang. Sedang pilihan kata yang dihadirkan cenderung gambaran wanita Bali yang keras.
                Aku sering jengkel apabila laki-laki yang telah kunikahi puluhan tahun itu mulai menjejalkan dirinya berebut ruangan yang sempit (Hal. 34)
Aku melirik lelakiku. Bau napasnya hampir meledakkan tubuhku (Hal.46)
                Bila pembaca, sudah sampai pada cerpen Sagra  yang menjadi judul kumpulan cerpen ini,  pembaca akan menemukan suasana lain yang lebih bersahabat dalam hal alur cerita. Dalam Sagra, pemilihan alur mengalir dengan deras, walaupun ciri khas Oka tidak pernah ditinggalkan. Pilihan-pilihan kata yang menerjang dan tegas, masih menghiasi cerpen-cerpen selanjutnya. Bila pembaca sudah terbiasa dengan ruang gerak kata dan dinamika kalimat yang diciptakan oleh Oka, pembaca bisa melanjutkan karya Oka yang lain, misalnya “Tempurung” atau “Kenanga”.  Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar