21 Januari 2020

Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari



                Ahmad Tohari, dalam kumpulan cerpen “Mata yang Enak Dipandang” menyajikan lima belas cerpen. Cerpen pertama yang dihadirkan juga berjudul sama yaitu “Mata yang Enak Dipandang”, yang pernah diterbitkan di Kompas, pada tahun 1991. Cerpen ini mengisahkan  kehidupan kaum papa, kaum miskin, yang merupakan ciri khas karya Ahmad Tohari. Dikisahkan Mirta adalah pengemis tua buta yang terus menerus diperas oleh Tarsa, yang biasa menuntunnya. Suatu hari Mirta dituntun ke stasiun dengan tujuan mengemis. Tapi  Mirta dalam keadaan sakit. Hal itu tidak dihiraukan oleh Tarsa. Tarsa tetap saja memaksa agar Mirta mengemis di stasiun. Saat menunggu kereta kelas tiga ternyata keadaan Mirta semakin parah, dan pada akhirnya Mirta menghembuskan nafas terakhir.
                Cerpen kedua “ Bila Jebris Ada di Rumah Kami”. Cerpen ini juga pernah dimuat di Majalah Kartini Tahun 1991. Cerpen ini mengisahkan, tokoh utama Jebris yang berprofesi sebagai pelacur. Jebris adalah teman akrab Sar. Sedang Sar adalah istri dari Ratib. Ratib adalah orang yang paling disegani di sudut dusun tersebut, karena Ratib menjadi imam Surau di dekat rumah mereka dan sebagai ketua seksi pembinaan rohani dalam kepengurusan RT. Melihat Jebris demikian, Sar sudah sering menasehati. Namun Jebris bergeming, dia tetap menjalankan profesinya. Hal tersebut mungkin karena himpitan ekonomi yang mengharuskan Jebris menghidupi satu anaknya dan bapaknya yang sudah tua. Semenjak diceraikan oleh suaminya seorang pedagang besar memang demikian kehidupan Jebris. Sempat ada itikat baik dari Ratib yang disampaikan kepada Sar. Bagaimana kalau Jebris bekerja di rumah mereka?
                Cerpen ketiga “Penipu Keempat”, pernah dimuat di Kompas tahun 1991. Diceritakan tokoh aku dalam sehari ditipu empat orang. Penipu pertama, seorang bapak yang mengaku tidak punya ongkos pulang ke Cikokol karena anaknya sakit. Penipu kedua, seorang perempuan yang mengaku dari sebuah yayasan pemelihara anak-anak yatim piatu di Banyuwangi yang meminta sumbangan. Penipu ketiga, seorang lelaki yang berjualan kemucing dan pisau dapur yang katanya buatan anak-anak penyandang cacat di Solo. Tokoh aku begitu menikmati permainan drama ketiga penipu tersebut. Bahkan tokoh aku pergi ke pasar hendak melihat penipu ketiga melakukan aksinya. Dan di pasar tokoh aku bertemu dengan penipu ketiga, yang juga berusaha menipunya lagi. Sebuah sarkasme kehidupan yang biasa kita nikmati dalam kehidupan nyata. Sudah tidak ada lagi rasa malu dan miskin sisi kemanusiaan.
                Daruan adalah cerpen keempat. Pernah dimuat di Kompas tahun 1990. Menceritakan tentang suka duka pengarang pemula. Daruan adalah seorang penulis pemula yang berusaha mencari jati diri dalam hal kepenulisan. Dengan semangat dan idealismenya, Daruan berusaha menaklukkan kenyataan yang ada di masyarakat. Berulang kali Daruan menawarkan hasil karyanya. Namun tak kunjung berhasil. Sampai pada suatu saat karya Daruan diterbitkan oleh Muji, temannya. Hanya sayang, Daruan harus menerima kenyataan pahit. Walaupun karyanya sudah diterbitkan, tetapi tidak mampu bersaing dengan pengarang dan penerbit besar. Walhasil, karyanya tidak laku.
                Cerpen kelima “Penajem”. Sebuah cerpen yang menceritakan tentang Kartawi yang mempunyai istri Jum. Kehidupan Kartawi awalnya tidak begitu sejahtera. Tetapi setelah Jum istrinya membuka warung lambat laun ekonomi keluarga Kartawi semakin baik. Hanya sayang Jum melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu dia mencari penglaris, dengan menggadaikan kehormatannya sebagai seorang istri. Memberikan sesuatu yang diminta oleh dukun, yang biasa disebut penajem. Melihat kenyataan seperti itu Kartawi marah, dan mencoba lari dari kenyataan. Tetapi pada akhirnya Kartawi harus kembali kepada anak dan istrinya. Kehidupan Kartawi seperti buah simalakama.
                Paman Doblo Merobek Layang-Layang, cerpen keenam. Menceritakan tokoh utama Doblo yang biasa disebut Paman Doblo, mempunyai sifat yang baik, suka menolong dan suka berteman dengan anak-anak. Hanya karena tuntutan tanggung jawab pekerjaan, ketika Paman Doblo sudah menjadi seorang satpam, dia melupakan segala karakter kebaikan yang pernah menempel pada dirinya.
                Cerpen ketujuh, “Kang Sarpin Minta Dikebiri”.  Cerpen ini menceritakan tokoh Sarpin yang suka gonta ganti perempuan karena tidak bisa mengontrol rasa birahinya. Sarpin sendiri sudah menyadari tentang kebiasaan jeleknya itu, tapi tetap saja dia tidak bisa menghentikan. Suatu saat dia minta dikebiri, karena sudah tidak tahu lagi jalan keluar yang lain.  Bahkan Sarpin akan nekad kalau memang tidak ada dokter yang mau mengebiri dia. Sarpin akan mendatangi tukang kebiri ayam di kampung sebelah. Belum sampai pada niatnya itu Sarpin keburu meninggal karena ditabrak mobil.
Bagi saya, seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong bener adalah orang baik. Walaupun cita-cita tersebut belum tersampaikan
                “Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan” adalah cerpen kedelapan Ahmad Tohari. Cerpen ini menceritakan bagaimana rasa kemanusiaan saat ini sudah mulai menipis di masyarakat. Hidup bersama saling memberi kesempatan, memberi belas kasih sudah tidak ada lagi. Sebuah cerpen yang mengingatkan kepada kita semua, hendaklah jangan mengedepankan kepentingan pribadi. Cobalah untuk juga melihat orang lain. Dikisahkan seorang Karsim hendak menyeberang jalan. Tapi sudah beberapa waktu di pinggir jalan dia tidak bisa menyeberang, karena lalu lalang kendaraan tidak pernah memberi kesempatan kepada dia untuk menyeberang jalan. Dengan keraguan yang sangat akhirnya dia jadi menyeberang juga. Tapi naas baginya, Karsim ditabrak mobil hingga tewas. Mayat Karsim setelah disholati, akhirnya dibawa ke pemakaman yang letaknya harus menyeberang jalan.  Dengan damai dan mudah iring-iringan keranda yang berisi mayat Karsim bisa menyeberang. Seluruh kendaraan tanpa dikomando, berhenti dengan sendirinya. Karsim pun tersenyum penuh kemenangan.
                Sayur Bleketepuk. Parsih dan Dalbun adalah sepasang suami istri yang telah dikarunia dua anak yaitu Darto dan Darti. Suatu saat Dalbun berjanji pada kedua anaknya akan membawa mereka naik komidi putar. Dalbun yang bekerja di proyek ditunggu-tunggu oleh istrinya yaitu Parsih tidak datang-datang. Bahkan Parsih mempunyai prasangka buruk terhadap suaminya. Karena takut Dalbun tidak bisa menepati janjinya, akhirnya kedua anaknya disuruh makan malam terlebih dahulu dengan sayur bleketepuk. Sayur tersebut sengaja dibuat dan disajikan kepada kedua anaknya. Namanya anak kecil, mendapat hidangan seperti itu, mereka nikmati hingga tuntas. Tidak berapa lama kedua anaknya tidur pulas. Bahkan ketika ayahnya sudah datang dan hendak mengajak kedua anaknya, mereka tetap tertidur pulas. Parsih hanya tinggal menyesali apa yang diperbuatnya, yaitu memusnahkan keinginan anaknya untuk naik komidi putar dan telah berburuk sangka kepada suaminya.
                Cerpen berikutnya yaitu “Rusmi Ingin Pulang”. Dalam cerpen ini pengarang menyajikan tokoh utama Rusmi, seorang janda yang ditinggal mati suaminya, karena tertabrak mobil. Awal kehidupan berkeluarga Rusmi serba berkecukupan. Hidup bahagia dengan kedua anaknya. Tapi semenjak suaminya meninggal, Rusmi harus menanggung beban kehidupan. Akhirnya Rusmi merantau ke Jakarta. Sedang warga kampungnya mendengar gosip bahwa Rusmi di Jakarta menjadi wanita penghibur. Ada juga yang pernah melihat Rusmi dengan lelaki lain. Dan gosip negatif tersebut terus berkembang tanpa bisa dibendung. Suatu hari Rusmi ingin pulang ke kampungnya. Kang Hamim, ayah Rusmi kuatir kalau anaknya pulang kampung mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Rusmi akhirnya jadi pulang kampung, dia mengatakan bahwa akan datang seseorang yang akan melamar dia. Banyak orang percaya, tapi tidak sedikit yang mencibir. Namun cibiran itu berhenti ketika lelaki yang disebut-sebut Rusmi datang dengan mengendarai mobil melamar Rusmi. Ternyata lelaki tersebut adalah teman Rusmi ketika masih sekolah di Sekolah Dasar. Hendaknya kita menjadi manusia janganlah cepat berburuk sangka kepada seseorang sebelum mengetahuinya sendiri.
                “Dawir, Turah, dan Totol” adalah cerpen yang menceritakan tentang kehidupan kaum gelandangan yang menetap di terminal. Dawir dan Turah adalah sepasang suami istri, tapi itu pun jadiannya juga tidak resmi. Sedang Totol adalah anak mereka. Bertiga bertempat tinggal di bagian terminal lama yang belum sempat dibongkar oleh pemborong. Suatu saat Dawir membelikan mainan buat Totol. Mainan tembak-tembakan. Totol senang sekali, Dia bermain-main, berlari-lari menembak Dawir. Tidak disangka Dawir ditangkap polisi karena ketahuan mencopet. Juga diceritakan kebebasan sex dalam kehidupan masyarakat bawah, yang tidak memperhitungkan kesehatan.
                “Harta Gantungan”. Sebuah cerpen yang menceritakan tentang Kang Nurya yang hidup menduda. Harta satu-satunya adalah seekor kerbau. Kang Nurya memelihara kerbau kecil, kemudian dia akan menjual kerbau tersebut apabila harga jual kerbau sudah tinggi. Kang Nurya mempunyai penyakit semacam tumor, tetapi dia tidak mau ke dokter karena tidak mempunyai uang. Inisiatif menjual kerbau juga tidak dia ambil, untuk berobat ke dokter. Baginya umurnya sudah terlalu tua, dan dia siap untuk mati. Dia berpesan apabila dia mati, kerbau itu minta dijual untuk membiayai kematiannya.
                Cerpen berikutnya “Pemandangan Perut”. Secara deskripsi diceritakan bagaimana tabiat orang-orang yang hidup di dunia ini, terlihat nyata di bagian perutnya. Tokoh Sardupi, orang yang dianggap tidak waras, namun dalam cerita ini dikisahkan bisa melihat tabiat atau yang pernah dilakukan oleh seseorang, seperti melihat film atau video di bagian perutnya.
                Cerpen berikutnya adalah “Salam dari Penyangga Langit” dan Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Pada intinya Ahmad Tohari dalam menulis cerpen cenderung menggambarkan kehidupan rakyat jelata dengan penuh suka dukanya.



                                                                                                                 Surabaya, 11 Oktober 2019
                                                                                                                 Edie S.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar