21 Januari 2020

Orang-Orang Proyek - Ahmad Tohari



Salah satu karya Ahmad Tohari  “Orang-Orang Proyek” menceritakan tentang kehidupan orang-orang yang bekerja di sebuah proyek pembuatan jembatan yang melintas di sungai Cibawor.  Sebuah latar yang dibangun manis dengan pendekatan deskripsi oleh pengarang. Pembaca akan dibawa oleh cerita, seakan-akan kita ada di lingkungan proyek pembuatan jembatan dengan lingkungan pedesaan. Penulis dengan cermat menceritakan alam dengan deskripsi yang detail.
                Angin sore terasa sejuk. Air begitu jernih. Bau lumut. Kisaran air menembus celah bebatuan 
                menimbulkan bunyi desiran halus. Ada kepiting merambati tebing. Datang bengkarung. Kedua 
                binatang itu berhadapan  dan kelihatan seperti akan saling serang. Tapi kepiting mengalah 
            lalu cepat menyelam. Ada suara mencicit dari sarang burung emprit di ujung ranting yang 
            mengayun di atas permukaan sungai. Telur mereka sudah menetas. Ketika angin bertiup 
            sedikit kencang, buah mbulu berjatuhan dan menimbulkan bunyi lirih. Plung ... plung ... 
            Lalu terjadi lingkaran-lingkaran riak di permukaan air. Ketika lingkaran-lingkaran yang 
            membesar itu saling bentur, terbentuklah lukisan geometris yang ajaib. Hanya sesaat.

Motor berwarna biru itu meninggalkan proyek, melaju di sepanjang jalan mati karena puluhan tahun jembatannya putus, masuk ke lorong kampung seperti yang ditunjukkan Wati. Menyelinap di bawah rumpun bambu yang meranggas, hampir menabrak induk ayam yang sedang menggiring lima anaknya, dan beberapa anak berhenti bermain untuk melihat siapa yang lewat. Beberapa kali bunyi motor yang dinaiki Kabul dan Wati membuat perempuan-perempuan menengok, menatap.

                Tokoh utama, Kabul adalah seorang insinyur yang mempunyai tugas sebagai pengawas pelaksana pembangunan jembatan di atas sungai Cibawor. Seorang insinyur muda yang masih berpegang teguh pada ilmu yang pernah dia pelajari. Idealisme adalah sebagian dari karakter yang berusaha dia pertahankan. Tidak mudah menyerah terhadap segala rintangan hidup dan kenyataan di masyarakat. Mengutamakan kepentingan keluarga, Biyung, Bapak, dan kedua adiknya, dibanding kepentingan pribadinya. Biyung baginya tidak bisa tergantikan dengan “ibu” atau “mama”. Biyung adalah bumi. Biyung adalah citra yang mewakili daya adikodrati yang menghidupi, melindungi, dan membimbing. Kabul, aktivis kampus yang vokal menyuarakan keadilan di masyarakat. Tokoh protagonis yang mempunyai pembawaan sederhana, tidak sombong, namun mempunyai cita-cita yang mulia.

                Insinyur Dalkijo adalah pemenang tender pembangunan jembatan di sungai Cibawor. Atasan dari Kabul. Sosok pendendam terhadap alur kehidupan. Tidak ingin menikmati kehidupan miskin, senang kemewahan, terlihat dari cara dandannya ala koboi, tunggangannya harley davidson, bak seorang koboi. Menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, walaupun harus mengorbankan rakyat jelata. Tokoh antagonis yang angkuh, kader GLM (Golongan Lestari Menang), produk golongan politik pemerintah yang berkuasa saat itu.

                Wati, adalah tokoh sampingan sebagai karyawan bagian administrasi di proyek Kabul. Orangnya ayu, kalem, putri dari seorang anggota DPRD. Dia bekerja di proyek hanya sebagai batu loncatan, sekadar bekerja, sebelum mendapatkan pekerjaan yang mapan. Hal menarik bagi Kabul, ketika Wati sedang merngut. Ada sesuatu yang membuat hatinya terhanyut.

                Pak Taryo, adalah tokoh protagonis. Seorang pensiunan Departemen Penerangan. Pernah bekerja sebagai wartawan. Mempunyai sifat semanak, selalu update terhadap perkembangan sosial di masyarakat. Berusaha tidak ikut campur dalam urusan yang dia tidak mengerti. Sifat kebapakan selalu menyertai dalam penampilan dan cara berbicara serta mengambil sikap. Mancing adalah salah satu hobi kesukaannya. Dan sungai Cibawor merupakan tempat yang favorit untuk memancing. Baginya memancing bukan hanya mendapatkan seekor ikan, tetapi ketentraman dan kesenangan hati yang paling utama. Ketika dia mendapatkan ikan yang lagi bertelur atau ikan itu terlalu kecil, maka dia lepaskan kembali. Menurut saya, Pak Taryo adalah gambaran dari A.Tohari, penulis novel ini, karena A.Tohari sendiri mempunyai kegemaran memancing. Dan Dia berusaha untuk menjadi penonton yang bijak dalam kemelut “Orang-Orang Proyek”.

                Basar, adalah kepala desa, teman satu kampus dan satu angkatan Kabul. Sewaktu kuliah mereka sama-sama aktivis yang sering menyuarakan kebenaran. Basar sebagai kepala desa berusaha sekuat tenaga untuk bekerja dengan baik sesuai dengan aturan dari pemerintah. Walaupun kadang hati nurani kebenarannya harus bersinggungan dengan “kebenaran” yang berkembang di masyarakat. Sebuah kebenaran semu, yang berusaha membodohi masyarakat. Kebenaran yang sudah beranak pinak mulai dari pejabat pusat sampai di daerah. Baginya, menjadi kepala desa bukan karena kehendaknya. Nyalon sebagai kepala desa karena dorongan ibu bapak dan saudara-saudaranya. Bagi keluarganya, jika Basar menjadi kepala desa, mereka bisa nunut wibawa dan disegani di masyarakat.

                Kang Martasatang, adalah tokoh yang sekilas tampak pada “Orang-Orang Proyek”. Tokoh ini sebenarnya adalah korban dari adanya proyek pembangunan jembatan di sungai Cibawor. Karena proyek itu pula, maka mata pencaharian dia sebagai pemilik sampan yang biasanya menyeberangkan penduduk yang hendak lewat sungai Cibawor menjadi mati. Tokoh Martasatang hadir dalam sebagian kecil cerita novel ini ketika anaknya Sawin, hilang. Sawin bekerja di proyek pembangunan jembatan. Suatu ketika hilang, dan diisukan menjadi tumbal proyek pembangunan jembatan. Akibatnya terjadi konflik dengan kabul. Hanya sayang, penulis kurang memanfaatkan tokoh antagonis ini untuk membuat konflik yang sedikit panjang dan tentunya akan lebih menarik.

                Mak Sumeh, adalah pemilik warung di proyek pembangunan jembatan sungai Cibawor. A. Tohari memberikan karakter yang cenderung biasa, tidak ada hal yang unik dan berbeda. Tubuh besar, berkeringat, bau badan sengak, cerewet, mak comblang, dan bergelang emas, yang merupakan simbol orang kalangan bawah yang ingin diperhatikan statusnya. Tapi, peran Mak Sumeh cukup menghidupkan suasana, karena kecerewetannya, di samping tokoh tante Ana, banci yang secara berkala datang ke tempat proyek untuk menghibur orang-orang proyek.

                A.Tohari yang notabene orang Jawa, dalam hasil karyanya berusaha untuk menghadirkan nuansa jawa, deskripsi lingkungan ndeso. Penggunaan istilah-istlah jawa cukup untuk menghidupkan suasana dan menghadirkan atmosfer yang adem. Hanya sayang, ketika ada pembaca yang tidak mengenal bahasa jawa akan merasa kesulitan mencari maknanya.
Kembange kembang terong. Kepengin cemerong-cerong. Arep nembung akeh ewong. ...
Tinggal glanggang, colong playu
Jago kluruk rame kapiarsi. Lawa kalong luru padhelikan. Jrih kawanen ing semune ...

Tembang Asmaradana :
Nora gampang wong ngaurip
Yen tan weruh uripira
Uripe padha lan kebo
Angur kebo dagingira
Kalal yen pinangana
Pan manungsa dagingipun
Yen pinangan pasthi karam ...
                Pembangunan jembatan di atas sungai Cibawor adalah proyek pertama Insinyur Kabul. Sebuah proyek yang sangat diharapkan masyarakat sekitar. Karena dengan adanya jembatan itu diharapkan transportasi semakin lancar dan perekonomian juga semakin baik. Paa zaman pendudukan Jepang, sudah ada jembatan, tetapi oleh pemuda-pemuda jembatan diledakkan untuk memutus mata rantai logistik peperangan, tetapi tanpa berpikir bahwa dengan meledakkan jembatan ternyata kerugian lebih banyak. Sejak saat itu untuk transportasi yang digunakan untuk menghubungkan dua desa hanya dengan perahu penyeberangan. Dengan adanya proyek pembangunan jembatan harapan masyarakat kedua desa mulai timbul lagi. Harapan menuju ke arah yang lebih baik.

                Dalam cerita “Orang-Orang Proyek” A.Tohari mengelupas dan berusaha menghadirkan borok-borok sosial yang dilakukan pelaku yang berhubungan dengan sebuah proyek. Para pembaca disuguhkan gambaran nyata tentang intrik-intrik, seluk beluk, dan kebobrokon yang ternyata hidup subur di masyarakat kita, mulai dari tingkat dewan sampai dengan tingkat kroco, paling bawah. Ujung-ujungnya yang menjadi korban adalah rakyat. Bagaimana sebuah proyek dihadirkan dengan tender yang bermasalah, banyak tangan yang ikut campur, semuanya minta bagian. Mulai dari yang berhubungan langsung sampai dengan yang nyata-nyata tidak berhubungan. Bagaimana sebuah proyek jembatan, harus menanggung beban biaya untuk pembuatan masjid desa yang jelas tidak ada dalam tender. Harus membiayai HUT kelompok GLM. Harus memberi bagian oknum A, oknum B, yang pada akhirnya harus mengerogoti biaya pembuatan jembatan, kualitas jembatan tidak sesuai dengan kesepakatan dalam tender. Penulis dengan berani menampilkan ilusi-ilusi nyata sebuah kebiasaan atau mungkin bisa dikatakan sudah menjadi budaya di masyarakat kita bahwa hal yang salah sudah menjadi sebuah kebenaran yang dipaksakan.

                Seperti biasa sebuah cerita selalu dihadirkan dengan bumbu percintaan. Walaupun tidak terlalu banyak menyita bagian cerita, A.Tohari juga menyelipkan konflik batin pada diri Kabul tentang rasa sayang yang mengambang pada Wati. Ada kebimbangan tetapi ada juga rasa ingin untuk mencintai dan dicintai. Kehadiran Mak Sumeh secara tak langsung menjadi jembatan untuk menyadarkan Kabul bahwa Wati menyukainya, walaupun kesannya terasa kasar.

                Konflik yang paling mendasar adalah rasa kesal terhadap pimpinannya, Dalkijo dan temannya Kepala Desa Basar, yang tidak mempunyai pendirian. Masih plin plan dalam mengambil sebuah keputusan. Tidak idialis. Mudah diombang-ambingkan banyak kepentingan, yang akhirnya menghalalkan segala cara yang penting jabatan, tender proyek selanjutnya lancar. Kepentingan masyarakat adalah hal akhir yang akan dijalankan.

                Tiang pancang jembatan sudah selesai dikerjakan. Tinggal pemasangan besi-besi untuk dasar jalan di atas jembatan. Puncak konflik terjadi ketika Kabul tidak mau menggunakan besi-besi bekas untuk dasar jembatan, tetapi Dalkijo ngotot bahwa besi itu tidak apa-apa. Walaupun bekas tetapi masih kuat untuk digunakan. Dalkijo menggunakan besi-besi bekas, karena dana untuk membeli besi baru sudah tidak ada. Menguap karena kepentingan-kepentingan orang atau golongan tertentu yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan pembangunan jembatan. Alhasil, karena tidak ada titik temu tentang penyelesaian pembangunan jembatan, Kabul menginginkan hasil kerjanya sesuai atau paling tidak mendekati kesesuaian seperti pada tender proyek, sedang Dalkijo selaku pimpinan proyek memaksakan mengunakan bahan besi dan olah kerja di bawah baku mutu, maka Kabul mengundurkan diri dari proyek itu.

                Pada akhir cerita, A.Tohari dengan cantik menutup cerita dengan happy ending di pihak Kabul, karena sudah mendapatkan Wati, sudah bisa memenuhi keinginan Biyungnya, mendapatkan calon menantu. Sedang pembangunan jembatan juga sudah usai, walaupun masih terselip kekuatiran tentang kekuatan jembatan tersebut. Walaupun hasil jembatan  tidak sesuai dengan keinginan Kabul, dia hanya berharap ke depan tidak ada lagi bancakan proyek semacam itu. Ternyata dalam “Orang-Orang Proyek”, tidak hanya sekadar tentang kerja di sebuah proyek jembatan dengan segala suka dukanya, ternyata orang-orang proyek mempunyai makna lebih dari itu, orang-orang proyek sudah merambah dari strata tingkat dewan sampai dengan tingkat paling bawah. Pembaca akan menemukan makna tersebut pada akhir cerita. Selamat membaca!

Poma-poma wekas mami
Anak-putu aja lena
Aja katungkul uripe
Lan aja duwe kareman
Marang pepaes dunya
Siyang-dalu dipun emut
Wong urip manggih antaka



                                                                                                                                Surabaya, 20 September 2019
EDIES.-
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar