27 September 2016

Singapura_3

Jam sudah menunjukkan pk. 04.30, saya bersiap diri dengan Ara. Diantar Mas Agus tetangga dekat kami berempat menuju Bandara Juanda. Di bandara sudah ramai, lalu lalang orang yang hendak melakukan penerbangan dengan berbagai tujuan. Tepat pk. 06.00 pesawat City Link dengan penerbangan tujuan Bandara Soekarno Hatta, sudah siap, dan kami pun segera menuju ke dalam pesawat. Untuk kesekian kali saya melakukan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat. Ara duduk dekat jendela melanjutkan kantuknya, dan sejenak tertidur pulas, sedang saya hanya menikmati perjalanan dengan membaca selebaran tentang tata tertib dan keamanan selama penerbangan. Selama 1 jam 20 menit pesawat mengudara diantara awan yang seakan-akan bisa kita raih, kita sentuh, beberapa kali pesawat harus menghindari awan putih pekat, terasa beberaka kali pesawat harus terguncang. Tepat pk. 06.30, pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta di daerah Cengkareng. 
Kebetulan barang yang saya bawa tidak terlalu banyak. Hanya Jimbe, alat musik seperti kendang dari Afrika. Satu kopor hardware drum. Nah ini yang agak ribet. Hardware tersebut saya masukkan ke dalam kopor. Alhasil beratnya minta ampun. Untuk tidak kena cas kelebihan bagasi. Rute Surabaya-Jakarta, tiap penumpang mendapat jatah bagasi 20 kg. Di Bandara Soekarno Hatta, bagasi tidak saya ambil, karena saya menggunakan tiket conecting, jadi bagasi langsung dipindahkan potter ke pesawat tujuan akhir, yaitu Singapura.
Sampai di Bandara Soekarno Hatta saya dan Ara sudah dijemput Mas Rendy dari Tour n Travel. Saya pindah ke Terminal pemberangkatan International. Di sini saya harus menunjukkan paspor, dan dicocokkan dengan tanda pengenal KTP. Juga ditanya tentang tujuan ke Singapura. Saya katakan hendak mengikuti festival musik.





26 September 2016

Singapura_2

Mengurus Paspor
Sebelum berangkat, tepatnya satu minggu setelah mendapat kepastian dari Purwacaraka, bahwa Ara akan pergi ke Singapura, maka saya berusaha mengurus paspor. Ini adalah pengalaman baru. Dan seumur-umur ya baru kali ini mengurus paspor. Sebelumnya sempat cari informasi di Google, cara mengurus paspor. Satu hari sebelumnya sempat datang ke Giant Margorejo untuk bertanya-tanya tentang syarat mengurus paspor. Keesokan hari dengan berbekal Kartu Keluarga, Akta kenal lahir milik Ara, dan KTP asli, maka saya datang ke Giant Margorejo. Setelah sholat Shubuh, saya sudah berangkat, dan sepagi itu ternyata sudah ada tiga orang yang antre. Seorang satpam datang tepat pukul 06.30, dan mulai mengatur antrean yang sudah mengular. Setelah kantor Imigrasi buka, satu persatu, pemohon paspor masuk satu persatu sambil membawa berkas lampiran, setelah mendapat blangko isian baru masuk ke ruang tunggu dan mengisi blangko tersebut. 
Masalah mulai ada ketika Ara tidak bisa dibuatkan paspor, permasalahan yang timbul, nama Ara di KK dan Akta kelahiran tidak sama, selisih huruf S dan Z, padahal saya sudah membawa surat keterangan dari kelurahan, surat keterangan dari kecamatan, yang menyatakan bahwa nama tersebut orang yang sama, tapi kata petugas imigrasi surat keterangan tersebut tidak berlaku, padahal surat tersebut yang mengeluarkan instansi resmi pemerintah kota Surabaya. Saya sempat bingung, karena jalan keluar harus membenahi KK, yang waktunya tidak memungkinkan dari waktu Ara pergi ke Singapura, maka saya harus menyerah. Sampai di rumah, sore saya sempat curhat kepada seorang teman  tentang permasalahan saya, teman saya itu mencoba mencarikan solusi, karena tidak ada jalan lain, maka saya mengiyakan. Dan selesailah paspor Ara.







23 September 2016

Singapura_1

Pada bulan Agustus 2016, Ara mendapatkan kesempatan untuk ke Singapura dalam rangka mengikuti Festival Art Se-Asia Pasifik. Berita tersebut diterima dari Pimpinan Purwacaraka Margorejo tempat  Ara les drum. Mendengar berita tersebut Ara senang sekali, dan pada akhirnya saya menyetujui untuk mendampingi Ara ke Singapura. Saat itu persiapan demi persiapan pun dimulai. Ara mempersiapkan diri dengan berlatih lebih intensif didampingi Mas Dimas. Sedang ibunya mempersiapkan kostum, memang agak ribet. Pengennya ingin menampilkan nuansa Jawa pada baju yang akan dikenakan. Pada akhirnya jatuh pada pilihan baju kebaya dengan desain modern, agar pantas dipakai anak remaja seusia Ara. Saya sendiri sibuk untuk mengurus paspor. Walaupun ada beberapa kendala dalam mengurus paspor, akhirnya paspor kelar juga.







SMEX 2016

SMEX, di tahun 2016 hadir kembali di tempat yang sama seperti tahun sebelumnya yaitu di Grand City. Sebuah pameran alat musik dan sound yang menghadirkan berbagai alat musik dan sound yang berkualitas. Rugi rasanya kalau ngak hadir untuk nonton.
Ara sempat mengajak saya untuk melihat SMEX, pengenya ingin beli cymbal dan Yamaha DTX multi 12. Hanya sayang ketika mengunjungi stand Melodia, dan stand yang lain DTXnya ngak ada. Alhasil hanya beli dua pasang stick drum Vic Virth. Ara sempat foto bareng dengan Gilang Ramadhan di stand Melodia.