11 Agustus 2008

HIKAYAT BULAN DAN KHAIRAN

Beberapa hari ini dalam pembelajaran sastra, saya mencoba menghadirkan sebuah puisi karya Husni Djamaluddin, yang saya dapatkan di Majalah Horison Tahun XXXXI, 2006, No.T4.2. Puisi ini begitu menggelitik untuk membangkitkan minat siswa mengapresiasi karya sastra, utamanya puisi, yang sementara ini siswa beranggapan bahwa menelaah makna dalam puisi itu sulit, dan berbelit. Apalagi membuat puisi.
Puisi tersebut berjudul Hikayat Bulan dan Khairan, ditulis tahun 1976, di samping mengandung asosiasi pornografis, juga bersifat naratif, sekaligus metaforis, yang semuanya ringan dan mudah untuk dicerna.

Hikayat Bulan dan Khairan

di langit malam: Bulan
memancarkan cintanya kepada Khairan
Khairan tidak perduli
di kamarnya yang sunyi
Khairan menulis puisi
lewat celah jendela
Bulan mengintip Khairan
Khairan tidak perduli
Di kamarnya yang sunyi
Khairan menulis puisi
Di langit bulan gelisah
Khairan tidak perduli
Di langit Bulan sepi
Khairan tidak perduli
Di langit bulan Rindu
Khairan tidak perduli

maka Bulan turun ke bumi
Khairan tidak perduli
Bulan melangkah mendekat
Khairan tidak perduli
Bulan memanjat dinding
Khairan tidak peruli
Bulan mengetuk jendela
Khairan tetap saja menulis puisi

pelan-pelan Bulan menguak jendela
Khairan tidak perduli
Bulan nekad memasuki kamarnya
Khairan tidak perduli
Bulan menggamit bahunya
Khairan tidak perduli
Bulan mengelus lehernya
Khairan tidak perduli
Bulan membelai pipinya
Khairan tidak perduli
Bulan mencium dahinya
Khairan tidak perduli
Bulan mengecup bibirnya
Khairan tidak bisa lagi tidak perduli
Bulan rebah di pangkuannya
Khairan tidak lagi menulis puisi
Bulan memegang tangannya
Khairan membiarkan
Bulan menuntunnya ke ranjang
Khairan tidak keberatan
Bulan buka kutang
Khairan mulai gemeteran
Bulan buka paha
Khairan segera jadi singa

syahdan
ketika Bulan dan Khairan
tuntas di puncak malam
sebuah puisi tiba di ujung baitnya

Bulan pun kembali ke langit malam
memancarkan cintanya ke mana-mana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar