05 Oktober 2009

Duh Gusti

Duh Gusti! Mengapa sampai saat ini aku masih menjadi manusia, kalau aku masih belum bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Duh Gusti! Mengapa sampai saat ini aku masih menjadi hambamu, walau aku sudah lima kali dalam setiap hari selalu merujuk kepadaMu, namun aku tak bisa membedakan mana kepentingan pribadi dan mana kepentingan untuk kemaslahatan umat.
Duh Gusti! Mengapa sampai saat ini Engkau masih memaafkan segala salah dan khilafku, sedang aku sendiri tak pernah bisa memaafkan kesalahan orang lain.
Duh Gusti! Mengapa Engkau sampai saat ini masih sering memberikan kebijakaan kepadaku, sedang aku sendiri tak pernah menggubris segala rengekan orang lain.
Duh Gusti! Mengapa Engkau masih sering mengingatkanku, sedang aku sendiri selalu tak pernah ingat tentang tindak tandukku.
Duh Gusti! Mengapa Engkau sampai saat ini masih selalu memberikan pelukan kasih sayang kepadaku, sedang aku sendiri masih sangat jarang memberikan perhatian kepada orang-orang yang seharusnya membutuhkan.
Duh Gusti! Mengapa Engkau sampai saat ini masih memberiku kesempatan untuk menikmati pagi, sedang aku sendiri lupa akan jati diriku ketika aku dilahirkan dari rahim seorang ibu.
Duh Gusti! Mengapa Engkau masih memberiku senyuman yang tulus, sedang aku tak pernah setulus itu memberi senyuman kepada orang lain. Senyum yang menghias di bibirku hanyalah sebuah keterpaksaan untuk menghargai orang lain.
Duh Gusti! Mengapa Engkau selalu berprasangka baik kepadaku, sedang aku sering berprasangka buruk kepada orang lain.

Duh Gusti! Hidupku adalah untukMU, namun aku tak pernah bisa memberi hidup kepada orang lain. Segala yang ada dalam genggamku, adalah milikku, sedang orang lain adalah kaki tanganku yang harus bersimpuh menyembahku. Meng-iyakan segala titahku. Selalu membenarkan tindak tandukku. Sekali berkata tidak. Sekali menyepelekan keinginanku. Kusapu bersih sampai keakar-akarnya.
Bagiku yang benar menurutku adalah yang paling benar, sedang yang lain nonsen. Tak pernah kuperhatikan secara bijak. Bahkan kalaupun mereka rakyat jelata menangis tersedu-sedu bersimbah airmata darah, aku tetap berpaling, dan membenarkan kebijakanku.

Duh Gusti! Ingatkan hambaMU yang hina ini dengan seluruh kasih sayangMu. Berilah peringatan dengan keras pada diriku. Berikan noda jelaga pada kebesaranku. Berikan duka yang mendalam dalam kehidupanku. Sebab dengan itu semua, aku yakin bahwa aku akan segera sadar bahwa diriku adalah umatmu yang kecil, dihadapanMu adalah makhluk yang tak berkelas. Dengan semua itu harapanku, aku akan segera sadar, bahwa aku begitu sombong dengan pakaian duniaku, aku begitu angkuh dengan atribut yang menempel di jati diriku.

Duh Gusti! Eling, memang sulit. Melihat noda di dahi kita adalah tak mungkin, tapi mengoreksi sedikit salah orang lain begitu mudah. Kepentingan diri adalah yang utama, sedang kepentingan orang lain adalah kebijakan yang kesekian untuk mendapatkan kata “iya”

Aku di ujung kelupaan. Aku di ujung kepikunan, dan mungkin sebentar lagi, aku akan terbenam dalam kegelapan yang hakiki sehingga akan melupakan rasa welas asih, rasa bijak yang benar-benar bijak. Rasa sayang yang benar-benar sayang.

Semoga, aku tak seperti itu!


(Jendela batin adalah yang kulihat, kudengar, dan kurasakan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar