18 Februari 2008

Supar


Supar. Nama lengkapnya Suparto. Nama yang cukup sederhana, mencerminkan orang jawa tulen. memang dia asli orang Sragen, kota perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Di tempat kerja saya, dia adalah orang paling lama, sejak tahun 80-an, sejak sekolah kami berdiri dia sudah mengabdikan dirinya demi kelangsungan sekolah kami. Perannya tidak begitu penting, hanya sebagai tukang pembuat teh untuk bapak/ibu guru. Bukan itu yang akan kita bicarakan, tetapi dedikasi dalam bekerja itulah yang mendorong saya menuliskan peran Si Supar ini. Bapak beristri satu dan berputra dua orang ini cukup sederhana, atau mungkin lebih dari sederhana. Seusai shubuh dia mulai berangkat ke tempat kerja hanya dengan mengayuh sepeda yang sudah tua, mungkin umur sepeda itu sepadan dengan umurnya. Walau zaman sudah moderen, tetapi dia tidak tergerus dengan kemoderen itulah. Walau anak-anaknya sudah memakai sepeda motor kalau bekerja, tetapi Supar ini masih setia mengayuh pujaan hatinya kalau hendak pergi ke tempat bekerjanya. Alasan yang beliau kemukakan cukup sederhana, yaitu sambil menyelam minum air, artinya sambil berolahraga, kita bisa sampai ke tempat tujuan tanpa mengeluarkan rupiah, untuk ongkos transportasi.

Bila sudah sampai di sekolah, beliau biasanya langsung menyapu dan mengepel ruang kepala sekolah, tata usaha, ruang guru, dan ruang wakasek. Setelah pekerjaan itu kelar, baru kemudian menyiapkan teh untuk hari itu. Setelah itu baru dia melakukan kewajibannya sebagai karyawan di SD (Sekolah Dasar), sampai jam 12.00. Rutinitas itu dia jalani hampir 25 tahun lebih, dan beliau tidak pernah berkeluh kesah. Semua dijalani dengan niat ikhlas, hanya untuk kelangsungan sekolah tempat dia bekerja. Ada satu hal yang pernah dia ajarkan kepada saya, yaitu falsafah Jawa yang hingga kini masih melekat di hati, yaitu Dadi uwong iku kudu trima ing pandum Sebagai orang Jawa saya sedikit banyak sudah mengetahui makna falsafah tersebut. Yaitu sebagai manusia hendaknya kita selalu menerima dengan ikhlas apapun yang telah diberikan kepada kita, entah itu berupa rezeki, jabatan, atau yang lainnya. Semua harus diterima dengan tawakal tanpa berfikir negatif kepada yang memberikan. Tidak usah ngoyo, tidak usah memburu, karena rezeki itu sudah ada yang mengatur, sudah ada yang menentukan, tetapi kita juga harus selalu berusaha, tidak boleh patah semangat.
Saya jadi teringat, ketika saya pergi ke toko buku Toga Mas di jalan Diponegoro, tepat pada rak buku-buku fiksi, saya dapatkan sebuah buku berbahasa Jawa yang berjudul Ojo Dumeh, sedikit saya baca, dan sedikit saya mengerti. Dalam tatanan bahasa Jawa ojo dumeh mempunyai pengertian bahwa sebagai manusia hendaknya dalam mengarungi kehidupan ini janganlah bertindak sewenang-wenang, elingo biyene, ingatlah zaman dulunya, ketika masih menjadi orang biasa, masih menjadi orang kere, dan tidak punya apa-apa. Bila sekarang menjadi petinggi, orang penting, orang kaya, janganlah bertindak sewenang-wenang. Ingatlah suatu saat kita juga akan kembali seperti dulu lagi.

Satu lagi falsafah Jawa yang sering dikatakan oleh beliau yaitu sabar narima. Setiap apa yang diberikan oleh yang Kuasa, hendaklah kita sabar untuk menerimanya. Di balik semua itu pasti ada manfaat positif yang tersembunyi. Bila kita diberi rezeki, berapapun rezeki itu, entah sedikit, entah banyak, entah berlimpah, hendaknya kita menerimanya dengan sabar dan selalu mengucapkan syukur. Bagi kita yang mendapatkan rezeki sedikit, juga harus bersyukur, mungkin di tempat lain, atau waktu lain kita akan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dan lebih bermanfaat. Atau kalau kita menyadari rezeki yang paling utama dalam kehidupan ini sebenarnya adalah kesehatan. Sebab dengan keadaan yang sehat maka kita bisa mencari rezeki lain, dan bisa menikmati kehidupan ini. Kadang saya suka memberi nasihat kepada siswa saya, sekali-sekali kita harus refresing ke rumah sakit. Sebab ketika kita melihat berbagai macam orang sakit di rumah sakit, maka kita akan menghargai kesehatan. Kesehatan merupakan harta yang tak ternilai. Dan apabila kita diberi rezeki berupa cobaan, sakit misalnya, maka kitapun harus bersyukur, ternyata Allah masih mengingatkan kita. Coba kita merenung mengapa kita diberi sakit. Jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah. Apapun yang diberikan oleh Allah pasti ada manfaat di balik semua itu.

Sering saya mendengar pak Supar ini mendendangkan lagu-lagu Jawa, entah itu langgam atau campursari moderen. Kalau mendengar suaranya yang mantap, dan cengkok yang kental Jawa seperti itu, hati ini menjadi tentram. Dan kadangkala kalau saya atau mas Darji mempunyai kaset atau CD baru lagu Jawa pasti pak Supar akan saya beri. Sebagai sarana hiburan pak Supar ini, di kampungnya mempunyai kelompok campursari, yang sudah sering bermain di lingkungan Karangan Surabaya. memang tidak begitu terkenal, tapi cukup untuk kegiatan mengisi wakyu luang. Kata beliau bukan uang yang dia cari dari kegiatan campursarian itu, tapi ketenangan batin, juga bertambah teman, untuk mengikat tali silahturohmi.

"Elinga marang kang duwe urip"
Kalau kita merasa sebagai manusia, yang telah ditakdirkan untuk menghuni dunia ini, dan menikmati apa yang ada di dunia secara gratis, hendaklah kita sadar, mengingat kembali dari mana kita berasal. Dari waktu ke waktu, dari mulai lahir hingga kita menjadi manusia dewasa yang bisa berfikir, memanfaatkan otak kita. Hendaklah kita mawas diri, yaitu setiap saat menginagt pencipta kita. Berusaha memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang boleh dan mana yang harus ditinggalkan. mana yang wajib dikerjakan terlebih dahulu, dan mana yang harus dikerjakan kemudian. Saya yakin setiap manusia tahu tentang hal ini, hanya bedanya ada yang sadar mau melakukan, tetapi ada pula yang enggan melakukan. Seperti lagu Ebiet G. Ade, Mumpung kita masih diberi waktu hendaknya kita eling marang kang duwe urip. Sebab penyesalan di kemudian hari tidak akan berguna sama sekali, apabila Sang Kholik telah memanggil pulang, atau masa kontrak kita di dunia ini telah habis.

Terima kasih pak Supar. Dalam kesederhanaan, ternyata menyimpan pemikiran budi yang tidak sederhana. Dalam kesederhanaan penampilan bisa melahirkan pemikiran yang jauh lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang berpendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar