Kehabisan Ha...
Ha ... ha ... ha ... ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ... ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ...
Ha ...
...
...
...
Diam,
Kaku.
Ha ... ha ... ha ... ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ... ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ... ha ...
Ha ... ha ...
Ha ...
...
...
...
Diam,
Kaku.
di 23.59 0 komentar
Label: waktuku Puisi

Tatkala rembulan hadir di mayapada
Membias indah berkerudung awan tipis
Kau hadir manja di pangkuan yang lelah
Tatapan mata yang nakal
Hidung kecil menawan
Dan seulas senyum menggoda
Membangkitkan sukma mengusir kepenatan
Kutatap tajam jauh di ujung bola matamu
Kutemukan kedamaian berjuta bintang
Tidak ada yang menyamai
Sejuk, tenang, bahagia memeluk gelap malam
Non ...!
Tak pernah kumerasakan seperti ini
Desah menggelitik jauh di selasar nuraniku
Sejenak membawaku dalam lamunan fatamorgana
Mayapada indah. Cemerlang penuh kedamaian
Non ...!
Pernah kukatakan
Aku suka lekuk indah pada bola matamu
sebab ...
Di sana kutemukan berjuta bintang tiada tara
di 21.32 0 komentar
Label: waktuku Cinta
Kali ini saya mendapat tugas lagi mendampingi anak-anak rekreasi ke P. Bali. Bosan? Tidak juga. Ada keinginan tersendiri untuk selalu hadir di Bali. Seperti halnya bertandang ke Yogyakarta, walaupun hampir tiap saat ke sana, tapi tidak pernah bosan, karena ada nuansa tradisional yang mengelitik untuk dinikmati. Apalagi budaya dan ritme kehidupan tradisional Bali hingga detik ini masih bisa bertahan di tengah gelombang hadirnya turis mancanegara dan turis domestik yang sedikit banyak membawa dampak pada sendi-sendi kehidupan di sana, namun masyarakat Bali mampu mempertahankannya. Sesuatu yang jarang terjadi di daerah lain di Indonesia.
Tahun ini peserta tour ke Bali cukup banyak, rombongan dibagi menjadi enam bus, dan didampingi 17 guru, termasuk bapak kepala sekolah. Dengan didampingi tour leader dari Ma’alas yang cukup berpengalaman, maka perjalanan cukup menjanjikan keamanan dan kenyamanan.
Rombongan berangkat pukul 07.00, molor setengah jam dari jadwal yang telah ditentukan. Bus 1, dikomandani Bp. Sabariyanto, Bp. Suyanto, dan Bu Neni Kartini, membawa siswa kelas XII.IPA-1, dan sebagian XII.IPA-3, Bus 2 dikomandani Bp. Ismanu, Bu Endang, dan Bp. Joko Susanto, membawa siswa XII.IPA-2 dan XII.BHS. Bus 3, Bp. Edi, Bp. Yon, dan Bu Arum, bersama dengan siswa kelas XII.IPA-3 dan XII.IPS-1, Bus 4 didampingi oleh Bp. Sony, Bp. Imam, dan Bu Maria, Bus 5 didampingi oleh Bp. Mariyadi, Bp Agus dan Bu Atik, sedang bus 6, didampingi oleh Bp. Hery dan Bu Anik.
Seperti biasa perjalanan agak terhambat ketika melewati daerah lumpur Lapindo, seluruh kendaraan yang ada di situ harus berjalan merayap bak siput kelaparan. Tapi mau apa lagi karena akses jalan ya hanya melewati tempat itu. Tidak ada alternatif jalan lain. Setelah lepas dari kemacetan, melewati jembatan kali Porong, perjalanan sudah nyaman. Selepas dari areal Pembangkit Tenaga Listrik Paiton, kira-kira pk.12.00 kita sudah sampai di rumah makan UTAMARAYA (Situbondo). Makan siang di tempat ini cukup nyaman karena disamping areal parkirnya cukup luas, juga yang tidak kebagian tempat duduk di dalam bisa makan di luar, di taman yang ada disamping rumah makan, sedang untuk bapak/ibu Pembina disediakan tempat tersendiri di lantai dua, namun menu yang dihidangkan sama dengan yang dinikmati siswa.
(foto di rumah makan)
Perjalanan di lanjutkan, sesampai di perbatasan Probolinggo, rombongan dikawal mobil patroli, kebetulan salah seorang siswa ayahnya Kapolresta Banyuwangi. Dengan beriringan bus yang berjumlah 6, bisa melanjutkan perjalanan dengan lancer plus bisa menghemat waktu. Kalau tanpa dikawal biasanya baru sampai di pelabuhan Ketapang Magrib, tapi dengan adanya pengawalan seperti ini rombongan tiba di pelabuhan Ketapang sekitar pukul 16.00. Moga saja tahun depan bila masih ada program tour ke Bali ada pengawalan seperti ini, asyik khan! Nah fasilitas plus masih kita dapatkan, yaitu ketika sudah sampai di pelabuhan Ketapang, rombongan tidak usah antre, enam bus bisa langsung masuk kapal feri, wah asyik lagi! Waktu bisa dihemat lagi! Bisa lebih cepat lagi! Dan masih banyak lagi … lagi … yang lain.
Seperti biasa sebelum anak-anak turun dari bus, untuk menuju kapal feri mereka sudah diwanti-wanti, bahkan sejak dari sekolah, bahwa mereka selama di dalam feri harus berkelompok, dan diharpakan untuk selalu berada di tempat penumpang yang telah disediakan. Tidak diperkenankan untuk berada di dek paling atas, disamping berbahaya, juga rawan untuk masuk angin. Ada pemandangan klasik kalau kita mau menuju ke feri pasti akan melewati jembatan yang cukup panjang, nah di kiri kanan jembatan itu kita akan melihat beberapa anak setengah baya yang lagi berenang di laut. Mereka pasti akan berteriak-teriak kepada orang-orang yang melewati jembatan itu. Harapannya orang-orang akan melemparkan uang koin ke laut dan mereka akan berenang untuk mengambil uang koin itu. Beberapa kali pak Yon melempar uang koin, dan dengan cekatan beberapa perenang alam berebut untuk mengambil uang koin itu. Terlihat beberapa perenang juga menggunakan sepatu katak agar berenang lebih cepat. 



Kurang lebih empat puluh lima menit berada di tengah laut, akhirnya rombongan sampai di pelabuhan Gilimanuk, dan melanjutkan perjalanan darat menuju ke Denpasar tepatnya ke Hotel Made Bali, yang beralamat di jalan Raya Sempidi Denpasar. Dari Gilimanuk ke hotel perjalanan cukup menjemukan karena malam hari sedang di kiri kanan jalan hanya rerimbunan gelap apalagi hujan rintik-rintik juga ikut menemani, sehingga untuk pak sopir harus ekstra hati-hati. Kurang lebih tiga jam perjalanan, waktu yang cukup lama apalagi badan sudah terkuras habis dan kelelahan sudah mulai mendera, anak-anak di bus sebagian sudah terlelap, kalaupun ada satu dua anak yang tidak bisa tidur hanya diam sambil menahan lapar. Sejak awal anak-anak memang sudah diberitahu bahwa perjalanan dari Gilimanuk ke hotel cukup lama oleh karena itu harus menyiapkan roti atau makanan sendiri untuk cadangan bila terlambat sampai ke hotel.
Tepat pukul 20.00 WIB. rombongan tiba di hotel Made Bali. Dipandu oleh Pak Ismanu pembagian kamar untuk anak-anak dan guru Pembina berjalan dengan lancar. Fasilitas kamar untuk siswa dan guru Pembina standar, ada dua buah tempat tidur yang bisa dipakai dua orang. Setelah mandi dan istirahat sejenak, seluruh rombongan makan malam di sebuah ruangan yang terpisah dari areal kamar. Saat itu di hotel juga ada rombongan SMA dari daerah Jawa Tengah, ada tiga bus. Praktis malam itu rombongan kami istirahat total dan tidak ada acara khusus. 



KARANG KURNIA
Selasa, 12 Mei 2009, hari kedua di Bali, setelah sarapan, objek wisata pertama yang dikunjungi yaitu Karang Kurnia, yaitu semacam outlet yang menyediakan pernak-pernik cinderamata khas Bali dengan harga sesuai dengan kantong siswa, tetapi dengan kualitas barang yang lumayan. Outlet ini baru buka tiga bulan, dan letaknya tidak begitu jauh dari hotel. Satu tempat alternative selain Pasar Seni Sukowati, dan Galuh. Tahun sebelumnya
Sebelum menunggu pertunjukan barong biasanya ke Galuh, hanya kalau ke Galuh barang yang ditawarkan harganya jauh dari kemampuan siswa, memang sih kualitasnya bagus, tapi kebanyakan siswa kalau ke Galuh hanya melihat-lihat numpang lewat. Oleh karena itu tahun ini ditawarkan oleh travel outlet baru Karang Kurnia.
Pukul 08.58 WIB rombongan tiba di Karang Kurnia, toko tersebut baru saja buka, hal itu terlihat beberapa karyawan masih menyapu lantai. Setelah masuk ke toko tersebut memang benar, semua barang yang dijual harganya tidak berbeda jauh dengan harga di Sukowati, alhasil hampir semua siswa bahkan guru-guru mborong cinderamata.



TANJUNG BENOA
Objek kedua yang dikunjungi pada hari itu adalah Tanjung Benoa. Yaitu suatu kawasan pantai yang biasa terkenal dengan istilah watersport. Di daerah itu kita dimanjakan dengan berbagai permainan air yang menantang andrenalin. Bagi yang ingin mencoba keberanian bisa menikmati parasiling, banana boat, fliying fish, atau jet ski. Sedang yang tidak ingin berbasah-basah cukup menikmati keindahan pulau penyu dan terumbu karang dengan berbagai jenis ikan hias yang bisa dinikmati dengan menyewa perahu, dan pada perahu tersebut ada alat semacam kaca yang bisa digunakan untuk melihat panorama bawah laut. Saat di hotel saya berniat ingin mencoba banan boat, malah sudah brsepakat dngan pak Imam, tetapi sampai di Tanjung Benoa, kita tidak jadi menikmati banana boat tapi mencoba parasiling.

Parasiling adalah sebuah parasut yang ditarik speedboat. Sebelum kita naik parasiling, kita memakai rompi pelampung, kemudian memakai beberapa peralatan yang biasa digunakan oleh penerjun. Setelah mendapat beberapa instruksi cara mendaratkan parasut, maka speedboat akan menarik penerjun. Dari ketinggian kurang lebih 80 meter dari permukaan laut kita bisa menyaksikan panorama yang tiada duanya, bahkan batu karang atau terumbu karang di laut juga tampak kehitam-hitaman. Karena belum terbiasa terjun maka ketika akan mendarat agak sedikit bingung. Mau mendarat di sebelah mana, karena pantai yang begitu panjang. Tapi setelah mendekati pantai, apalagi pemandu yang berada di darat sudah mengangkat bendera biru, maka kita mengetahui arah mendarat. Dengan tarikan tali parasut sebelah kanan secara otomatis parasut sudah mengarah ke bibir pantai. Dan dengan menekuk sedikit kaki kita akan dapat mendarat dengan nyaman.
Flying Fish adalah permainan air yang sangat menantang. Sebuah perahu karet berbentuk ikan pari, dua orang penumpang di sebelah kiri dan kanan tidur terlentang. Sedang pemandu berada di tengah diantara dua penumpang tersebut, yang mempunyai tugas untuk menjaga keseimbangan agar perahu karet kitika melayang di atas permukaan air tidak terbalik. Dengan ditarik speedboat berkecepatan tinggi, maka perahu tersebut akan melayang di udara, dengan ketinggian kurang lebih 5-6 meter. Sensasi berada di atas sebuah layang-layang tidak bisa terbayangkan. Hanya sayang di sini penumpang tidak bisa aktif, hanya pasif menikmati tarikan dari speedboat tersebut.
Banana boat, adalah sebuah perahu karet berbentuk pisang yang ditarik speedboat dengan kecepatan tidak terlalu kencang. Berpenumpang maksimal 4 orang plus satu orang pemandu yang berada paling depan, penumpang akan merasakan desiran angin laut dingin mengingit tulang. Kurang lebih 20 menit kita akan mencoba keberanian berada di tengah laut. Tapi jangan takut tenggelam, karena sebelum naik banana setiap penumpang sudah memakai rompi penyelamat. Nah sebelum banana tersebut ditarik speedboat, penumpang bisa meminta kepada pemandu, selama perjalanan banana tersebut mau digulingkan ke air atau tidak. Jelas kalau digulingkan maka seluruh penumpang akan masuk ke air dan basah kuyup. 

Jet Ski, seperti yang kita lihat di televise, jet ski di Tanjung Benoa juga sama. Jet ski tersebut maksimal dinaiki 2 orang penumpang. Dengan tarif sekitar seratus ribu, kita bisa menikmati tarikan gas sesuka kita.
Wisata pulau penyu. Bagi wisatawan yang tidak suka berbasah-basah bisa naik kapal boat bersama-sama menuju pulau penyu. Di sana bisa melihat bermacam-macam penyu. Selain itu kita bisa menikmati panorama bawah laut dengan terumbu karang dan ikan-ikan hias yang cantik.
Sebelum melanjutkan ke objek wisata Outlet Jangkrik, dengan terpaksa bus 3 harus tertinggal dari bus yang lain, karena tuas persneling harus dilas terlebih dahulu. Untungnya penghuni bus 3 bisa memahami hal tersebut.
JANGKRIK
Tepat pukul 12.30 Bus 3 berangkat ke Jangkrik. Dengan diiringi air hujan yang cukup deras akhirnya rombongan bus 3 datang paling akhir ke Jangkrik, setelah makan siang, saya sempat melihat outlet Jangkrik, dan membelikan beberapa potong kaos untuk yang di rumah. Hanya ketika itu koleksi kaos yang ada di counter baik di lantai dasar maupun di lantai atas tidak selengkap ketika setahun yang lalu mampir ke sini. Dan juga karikatur yang melekat di kaos tidak banyak berubah, karikaturnya tetap. Masukan untuk pengelola Jangkrik, kalau masih ingin tetap dikunjungi penggemarnya maka pengelola harus berani tampil beda, utamanya karikatur yang dikaos, harus lebih banyak fariasinya, dan baru. Alhasil saya agak kerepotan untuk memilih. Sempat juga jepret sana jepret sini, khusus untuk arena museum karikatur yang bagi saya cukup menarik dan tidak membosankan. Juga sempat memotret seseorang yang lagi membuat karikatur.



di 18.09 1 komentar
Label: waktuku Jalan-Jalan
Sebenarnya tulisan ini sudah aku buat tiga hari menjelang Unas. Ketika lagi mengajar di XI.A-1, ada keinginan untuk menulis untuk memberi bekal sedikit kepada anak-anakku yang akan menghadapi Unas. Harapannya ada dorongan semangat untuk meraih cita-cita mereka, dan keinginannya agar mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang hanya satu kali ini saja, seumur hidup mereka. Tidak ada kebanggaan, selain melihat mereka bisa tersenyum penuh kebahagiaan dan kemenangan, menyongsong hari depan, masa depan yang lebih baik. Bisa mengantarkan mereka untuk menguak sedikit pintu gerbang cita-cita adalah harapan semua pendidik. Semoga!
Kurang tiga hari lagi
Aku akan menemukan waktuku
Waktu yang telah kutunggu selama tiga tahun
Waktu yang kurindu
Waktu yang hendak mengantarkan aku mengarungi samudra kehidupan yang lebih tinggi
Waktu yang hendak mengiringi aku meraih cita-cita dan mimpiku
Akankah aku sia-siakan?
Akankah aku korbankan waktu, tenaga, dan biaya yang sudah aku keluarkan?
Akankah aku khianati kerja keras dan keringat ayah dan ibuku?
Akankah aku kandaskan mimpi indah dan senyum manis bundaku?
Akankah aku terlantarkan keinginan tulus guru-guru tercintaku?
Waktuku tinggal selangkah lagi
Pintu gerbang sudah di depan mata
Menunggu aku membuka dan masuk di dalamnya
Sudah siapkah aku?
Sudah siapkah aku menerima kenyataan pahit?
Sudah siapkah aku menerima kegetiran?
Sudah siapkah aku menerima kegagalan?
Sudah siapkah aku untuk tidak menangis?
Sudah siapkah aku untuk melihat bundaku melelehkan air mata?
Sudah siapakah aku menerima kesedihan dari ayah, ibuku?
Sudah siapkah aku melihat semua orang melihat ke arahku dengan tatapan sedih?
Tidak!!
Tidak mungkin aku kuat menghadapi semua itu
Tidak mungkin aku bisa melihat kesedihan di mata orang-orang yang kucintai
Tidak mungkin aku bisa menyaksikan guru-gurulu tertunduk gundah
Tidak mungkin bisa !!
Tidak mungkin bisa !!
Masih ada waktu menungguku
Waktu yang harus kulalui
Aku ingin menuju pintu itu
dan masuk di dalamnya
Aku ingin semua orang yang kusayangi tersenyum bahagia
Aku ingin semua orang yang kusayangi mengatakan bahwa aku hebat
Aku ingin semua orang yang kucintai tidak meremehkan aku
Aku ingin mengatakan kepada mereka
bahwa, AKU BISA!
AKU PASTI BISA!
"Selamat menempuh Unas, semoga sukses"
Waktu membuat tulisan tersebut di atas, aku masih bisa untuk menuliskan sampai tuntas. Tapi ketika hendal membacakan di depan kelas, terasa berat, apalagi melihat anak-anakku yang memelas. Pada akhirnya tulisan itu aku serahkan pada Enno, salah seorang anakku yang aku yakin bisa membacakan tulisan tersebut, secara teatrikal. Takjub!! Dengan iringan instrumen yang aku putar dari laptop yang kebetulan aku bawa, judulnya romeo and juliet, berupa petikan gitar klasik. Suasana begitu dingin, sunyi, Enno berjalan di sekeliling teman-temannya sambil membaca tulisanku tadi. Bagai dihipnotis semua tertunduk, satu, dua anak ceweq mulai tak tahan untuk mengeluarkan airmata.
di 16.57 0 komentar
Label: waktuku Renungan